Indonesia Memiliki Hambatan Kualitas, Akses dan Manajemen

Indonesia masih memiliki tantangan serius dalam mencapai target Milennium Development Goals (MDG) diantaranya aspek kualitas, akses dan manajemen. Pendapat tersebut disampaikan oleh Menteri Kordinator kesejahteraan rakyat Agung Laksono saat membuka FASPPED, di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, (6/7).

Aspek Kualitas terletak pada kualitas pendidik sementara akses serta manajemen dunia pendidik, menjadi persoalan penting karena tidak semua pelajar di daerah perbatasan dapat terkena akses pendidikan.

Agung mengatakan, kita harus bersama-sama membangun komitmen untuk pendidikan, baik masyarakat, pemerintah, anggota DPR serta stakholder lainnya. "Indonesia seperti juga negara lainnya menghadapi tantangan serius dan keterbatasan kesempatan dalam menghadapi persoalan pendidikan,"paparnya.

Dia menambahkan, meskipun ada hambatan, sisi positifnya bahwa Indonesia mengalami perkembangan  secara makro ekonomi yang mulai membaik sehingga membawa optimisme baru di masa mendatang. Namun dibalik itu semua, ternyata Indonesia masih menghadapi persoalan serius khususnya masalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan ibu dan anak dalam mencapai pelayanan mendasar.

"Ini merupakan tanggung jawab utama dari Kementerian Kordinator Kesejahteraan Rakyat, kita juga akan berusaha untuk mengurangi ekses negatif dan mengembangkan sisi positifnya,"katanya.

Bahasa Inggris
Menurut Agung Laksono, bahasa Inggris memegang peranan penting dalam era globalisasi saat ini. meskipun pengguna bahasa mandarin sangat besar, bahasa Indonesia, serta malaysia menjadi bahasa bilingual di beberapa negara Asia Tenggara, Bahasa Inggris tetap memegang peranan penting di percaturan dunia. "Globalisasi Asia Pasifik masih membutuhkan bahasa inggris sebagai alat komunikasi diantara negara Asia Pasifik dan berbagai belahan dunia,"katanya

Dia mengatakan, Indonesia telah merekomendasikan penggunaan bahasa inggris sejak dekade lalu, dari Depdiknas menyatakan Bahasa Inggris dapat menjadi bahan ajar untuk tingkat sekolah dasar. "yang keberatan terhadap ide penggunaan bahasa inggris untuk sekolah dasar berkilah. hal itu dapat mengurangi rasa nasionalisme anak-anak Indonesia,"katanya.